Selasa, 03 Maret 2015

KYAI BEJO KYAI UNTUNG KYAI HOKI #3


R
AKYAT YANG diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus menerus dan terlalu lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina tanpa tersisa sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina.

Jangankan membedakan mana kehinaan, mana kemuliaan didalam kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekedar bermain sepak bola saja kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang, malah salah menemukan sebabnya kenapa kok bisa menang.

Visi, wawasan, ilmu, identifikasi dan pemetaan nilai-nilai dan realitas, telah menjadi suatu jenis seni rupa impressionis instans. Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama komunikasi dan informasi sudah mengalami pecahan-pecahan, pengepingan-pengepingan, syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian parameter sampai 4-5 kali, saking tidak mendasar dan tidak menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita.

Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politik, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang di tunggu pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas dijadikan ganjal almari. Nasi diperlakukan sebagai krupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.

Bangsa yang kehilangan parameter hampir disegala bidang. Bangsa yang memilih langsung presidennya namun tanpa melewati pijakan subtansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap hari namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh. Apakah mereka menang atau kalah. Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat atau bangsa.

Bangsa yang -sesekali - menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadag sedang menjalankan ajaran agama, namun hampir tidak terdapat pada perilakunya dialektika berpikir agama, tidak ada kausalitas mendasar antara input dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan.

.******.


Yang paling beruntung dalam kehidupan sepanjang sejarah manusia adalah pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. Semakin tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka dicintai atau tidak oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah dari pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran.


Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri ini adalah “kiai Bejo”, “kiai Untung” atau “Kiai Hoki”. Orang yang mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pameo membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang bejo.


Setiap pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pameo itu, sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya dan “bejo”.


.********.

Mungkin ini yang dimaksud Cak Nun... PRESIDEN BEJO ITU....
TERIMALAH INDONESIA.....MR. PRESIDEN PILIHAN KITA...










#KYAI_BEJO_KYAI_UNTUNG_KYAI_HOKI
#EAN

(HJ)

KIAI BEJO, KIAI UNTUNG, KIAI HOKI #2


K
ARENA  kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, “rakyat yang paling rakyat” lainnya. Kita pandang sebagai faktor noda dan kehinaan sebagai bangsa. TKW kita jadikan suku cadang utama kalimat penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor produk-produk teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita mengekspor TKI-TKW.

        Dan kita tidak melakukan apapun yang lain kecuali menghina dan merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka, tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa mereka – sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang-kurangnya ada 3 juta kasus TKI-TKW kita di luar negeri tanpa satu pun pernah dibereskan oleh pihak yang berkewajiban dan digaji untuk pekerjaan dan upah seumur hidup yang antara lain bertugas melingkupi penanganan nasib TKI-TKW.

       Pekerjaan kita hanya menghina mereka sambil pada saat bersamaan memanfaatkan mereka di rumah tangga kita masing-masing. Kehidupan sehari-hari rumah tangga kita sangat tergantung pada mereka, upah yang kita bayarkan kepada mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan manusia, plus bonus penghinaan didalam hati, cara berpikir dan tradisi perilaku budaya kita atas mereka.
      
      Dengan begitu kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya manusia, sehingga karena itu pula maka kita memiliki keperluan untuk menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, semakin tinggi kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang secara psikologis demikian itulah formula survival kejiwaannya.

     Bahkan kalau mereka pulang ke tanah air, sudah kita persiapkan lembaga dan birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama, menyiapkan terminal dan pintu khusus untuk memperhinakan mereka. Kedua, policy untuk memperhinakan diri kita sendiri dengan cara memeras uang jerih payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang.

     Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap resmi maupun liar. Dan puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para koruptor keluar masuk bandara sebagai rahja, memperlakukan mahasiswa dan pelajar yang membelanjakan uang ke luar negeri sebagai pahlawan, sementara TKI-TKW yang pulang kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada devisa negara – justru kita injak-injak martabatnya.

.*******.
                
       BANGSA YANG BISA melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan memperkerjakan orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan atas mereka.

  Pada hakikat kenyataan dan kenyataan hakikinya, rakyat adalah ibu bapak sejarah yang kita TKI-TKW-kan sepanjang masa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman tangan dan dibawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik tongkat kekuasaan politik, modal, wacana dan informasi. Rakyat ditipu terus menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari periode ke periode . Yang namannya disebut, dikomoditikan, diatasnamakan, oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan itu tergenggam di tangannya.

                Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan, posisinya dipakai sebagai mahkota kekuasaan namun dalam praktek pundak mereka ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian bawah rendaman cairan liur teori-teori dan pidato-pidato demokrasi.

Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan yaitu dikempongi oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal sehingga mulut kedaulatannya ompong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, dikelabui pagi hari, diakali sore hari, dininabobokan siang hari dan dicuri miliknya malam hari.

.*******.

Monggo di sruput kopi susunya...... 

#Kyai Bejo_Kyai Untung_Kyai Hoki
#EAN

KIAI BEJO, KIAI UNTUNG, KIAI HOKI

KIAI BEJO… KIAI UNTUNG…. KIAI HOKI


A
DA KESOMBONGAN orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh.


Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah rakyat, tapi kalau ada penguasa,  maka yang kita maksud dengan rakyat tentulah mereka yang dikuasai. Teruskan: rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah yang bodoh dan rakyat adalah yang selalu belum saleh
.
Identifikasi yang lebih praksis: selalu rakyat adalah pihak yang diatur oleh pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang sangat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta sangat mencurigakan di pandang dari rasionalitas dan proporsi managemen kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak untuk menganggap dirinya adalah penggenggam hukum dan rakyat adalah wilayah terapan hukum.


Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut harus dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari kemiskinan dan diselamatkan dari keterpurukan.

Pandangan ini sangat laknat, terhadap kenyataan bahwa sesungguhnya rakyat adalah pemilik kekayaan sangat melimpah dari tanah rahmat Tuhan Republik Indonesia, namun kekayaan rakyat itu dijadikan langganan perampokan oleh setiap penguasa. Dan setiap penguasa itu selalu tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan melakukan perubahan dari kondisi miskin menuju tidak miskin.

Menurut parameter teknis stastistik perekonmoian dunia, rakyat Indonesia memang rata-rata miskin namun kenyataannya rakyat adalah pengupaya ekonomi yang luar biasa dibawah atmosfer kejahatan negaranya, sehingga upaya-upaya berekonomi kerakyatan itulah yang berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total.

Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas kesejahteraan rakyat, mentikusi administrasi keuangan negara milik rakyat, mencuri dengan berjamaah dan dengan modus-modus yang makin lama tidak kasat mata. Namun “ubet” ekonomi rakyat, “budaya kaki lima” yang cair dan longgar, menciptkan semacam “pernapasan dalam” yang membuat rakyat terus survive meskipun hampir tak ada supplay udara dari negara.

Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali para penjahat penunggang negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan manajemennya kepada negara. Namun ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan diri mereka dari kebangkrutan total.

Meskipun demikian siapapun saja yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan keangkuhan yang luar biasa, menyatakan  akan dan sedang menyelematkan rakyat dari kebangkrutan.

.*******.

KEMUDIAN KONTEKS kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang kebodohan melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat lagi.

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai orang pandai, merancang dirinya untuk melakukan pemandaian atas rakyat. Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum intelektual menyebar wacana-wacana untuk mendobrak kesempitan wawasan rakyat, duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan pengetahuan agar rakyat melek dunia.

Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak oleh  anggapan diam-diam di dalam dirinya bahwa mulai hari itu ia melangkah meninggalkan kebodohan rakyat yang kemarin ia masih menjadi bagian darinya. Kapan ada rejim tumbang, harusnya mahasiswa yang direkognasi sebagi pelaku utamanya. Sebab agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat.

******.

Dan akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, yang mungkin Tuhan-pun tidak rela : adalah tradisi kesombongan orang saleh.

Rakyat di kasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat diulamai, pagi mereka dipasturi, siang mereka di pendetai, sore mereka dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana menata kalbu. Padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.

Kalau Al Qur’an menyebut “ berimanlah kepada Allah.” Yang dituju adalah rakyat, bukan ustadz atau ulama. “ Wahai orang-orang kafir” –itu kemungkinan besar rakyat, mustahil pak kyainya. “Dekatkanlah dirimu kepada orang saleh”- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat mendekat-dekat pada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan belajar kepada umat.

Bahkan dai, mubaligh,ustadz, dijunjung-junjung - namun dengan parameter indusri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan oleh rakyat yang memiliki feeling dan jenis pengetahuan sendiri tentang siapa ulama  siapa pencoleng, siapa ustadz  siapa bakul pasar.

Ada semacam feodalisme  naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak pernah usai  dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau mendengar kata “rakyat”, tanpa sengaja langsung terdapat perasaan look down” dan menemukan yang bernama rakyat itu berada di dasar jurang dari peta nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan.

Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan “kasta” itu tidak menjadi kikis misalnya oleh pengalaman intelektualitas atau kesadaran demokrasi atau egaliterianisme. Misalnya rakyat “yang paling rakyat” adalah pembantu rumah tangga. Tidak sedikit contoh bagaimana seorang profesor doktor, pejabat tinggi atau ulama –memperlakukan pembantu rumah, benar-benar sebagai “pembantu rumah tangga” yang hampir berkonsep mirip perbudakan. Rumah tangga awam bisa terbukti bersikap lebih egaliter, santai dan demokratis kepada pembantu rumah tangganya.

Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin menumbuhkan perasaan lebih unggul dan lebih tinggi derjatnya sebagai manusia. Dunia pendidikan tidak punya konsern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahana hati, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

.******.

#KYAI_BEJO_KYAI_UNTUNG_KYAI_HOKI
#EAN
(HJ)





Senin, 02 Maret 2015

Sudrun Gugat#3

ENGKAU KACA, BUKAN CAHAYA

      APABILA berbicara tentang umat, Sudrun selalu menangis. Sama dengan kalau ia bersujud selewat dua paro malam. Ia melukisi kesunyian malam dengan isakan-isakan tangis. Padahal untuk selain yang dua itu ia tak pernah menangis. Terhadap rasa derita dirinya sendiri Sudrun selalu tertawa. Semakin pribadinya bersedih semakin ia tertawa. Tetapi, setiap kali ia rasakan tangis umat di sekitarnya setiap kali pula tangisnya  berlipat-lipat.

        “Pusatkanlah perhatian dan energi hidupmu kepada umatmu, karena Allah lebih bersemayam di kandungan hati mereka dibanding pada hati pemimpin-pemimpinnya,” katanya terbata-bata karena isakan tangisnya. “Aku tahu itu dan aku bersaksi atas pengetahuanku!”

         Ya ampun. Dia  jongkok meringkuk disisi bilikku.

         “Aku sangat kecewa selama ini.” Ia meneruskan,”karena kamu terlalu asyik memperhatikan dirimu sendiri. Kamu terlalu tenggelam berkonsentrasi pada kebesarannmu, pada perusahaan popularitasmu. Padahal umatmu sangat lapar, amat sangat lapar, tanpa tahu apa yang sesungguhnya ingin mereka makan – dan kamu tidak menunjukkan kepada mereka hal itu. Umatmu sangat merasa kehausan, tanpa mereka mengerti apa yang sebaiknya mereka reguk, dan kamu tidak menyodorkan minuman yang tepat bagi rasa haus mereka yang telah berkurun-kurun lamanya.”
         
        Sudrun bagai hendak meraung. Dan aku sendiri lebih dari itu  : aku ingin memekik-mekik sekeras-kerasnya untuk menggulung habis seluruh perasaan yang membelit dadaku. Aku ingin badanku meledak, pecah berantakan dan sirna!

BEBERAPA  waktu yang lalu Sudrun mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun yang membuatku tergagap karena kebingungan, sehingga akhirnya ia jawab sendiri kebanyakan dari pertanyaan-pertanyaan itu.

“Siapakah kamu?”
Aku menyebut namaku.
“Bukan, bentaknya,” itu hanya namamu. Itu belum tentu kamu!”

Kemudian ia memegangi tanganku, lenganku, pundakku dan seterusnya sambil terus mencecar. “Ini tanganmu, bukan kamu. Ini lenganmu, bukan kamu. Ini pundakmu, bukan kamu. Ini otakmu, bukan kamu. Ini hatimu, bukan kamu. Ini semua bukan kamu, meskipun kamu dan semua orang menyangka ini adalah kamu. Ini semua bukan kamu. Kamu adalah yang memimpin ini semua!

Yang dikerumuni oleh sejuta orang itu juga bukan kamu, bukan namamu, melainkan suara kerinduan di kedalaman jiwa mereka sendiri. Kamu jangan salah sangka, jangan GR, jangan mengambil alih dan memonopoli sesuatu yang kamu sangka kamu dan milikmu. Kamu ini hanya kaca, bukan cahaya. Kamu hanya lempengan pemantul, bukan sumbernya! Kalau orang membungkuk-bungkuk dan menciumi tanganmu. Kamu hanya petugas yang mengantarkan sesuatu yang dikagumi oleh nurani umat manusia. Kalau kamu menyangka bahwa sesuatu itu adalah kamu sendiri, kamu akan hangus terbakar!”

Di hadapan Sudrun, mulutku selalu kelu.

“Kamu ini muslim. Siapa muslim? Muslim adalah manusia yang merelakan dirinya diperkerjakan oleh Allah.  Diperkerjakan bagaimana? Siap menjalankan amanat-Nya. Amanat apa? Serangga-serangga kecil pun diselenggarakan eksistensinya oleh Tuhan dengan mengemban amanat. Ayam diamanati untuk memasok gizi kepada manusia dengan daging dan telurnya. Laba-laba diamanati untuk melindungi Rasul Allah dan Sayid Abu Bakar ketika mereka dikejar oleh pasukan Abu Lahab saat berhijrah. Dan apa amanat untuk kamu??

Ada perbedaan serius antara kamu dan ayam. Ayam langsung menjalani amanat itu tanpa jarak ontologis, tanpa eksplorasi intelektual dan tanpa kreativitas budaya. Laba-laba langsung mengerjakan amanat itu tanpa harus memiliki wawasan yang matang tentang apa yang sedang berlangsung didalam sejarah kemarin, sekarang dan besok. Ular menjalankan amanat itu tanpa kewajiban mengantisipasi dan menemukan determinasi terhadap struktur-struktur permasalahan mikro dan makro komunitas manusia. Dedaunan, akar-akar pohon, sulur di rimba raya, menjalani amanat itu tanpa keharusan berpikir konstan agar menemukan modus gerakan sejarah yang paling efektif. Kalau kamu menjalankan amanat di pundakmu tanpa upaya maksimal untuk merancang gerakan sejarah semacam itu, apa beda antara kamu dengan serangga, ayam, ular dan laba-laba?? Padahal, dibalik amanat itu, Allah telah memberimu fasilitas-fasilitas yang canggih, yakni kesanggupan magnetikmu untuk menyerap sejuta umat serta umat itu sendiri. Umat adalah fasilitas dari Tuhanmu. Umat adalah pemantul amanat-Nya untukmu.”

Itulah Sudrun...apakah kita termasuk yang menyudrunkan diri??







Monggo disruput kopi suzunya lagi.....

#Sudrun_Gugat3
#EAN


SUDRUN GUGAT #2


BAJU ITU TANGGAL DI HADAPAN TUHAN

         ITULAH yang paling menyakitkan yang pernah ku alami. Tapi, akhirnya aku tahu bahwa ada perbedaan besar antara rasa sakit dengan penyakit. Penyakit itu destruksi terhadap hakekat hidup. Tapi, sakit justru sanggup membawamu memasuki sebuah situasi sakral yang misterius. Aku yakin engkaupun tahu bahwa ternyata rasa sakit dan kepedihan sesungguhnya adalah kebahagian yang tidak menjumpai tempat persemayamannya di dalam jiwamu.

              Sudrun menghardiku sepanjang malam, sebelum akhirnya ia mendadak lenyap entah kemana tatkala fajar berakhir. Kehadirannya kemudian digantikan oleh cahaya matahari yang pagi itu lain sama sekali dengan cahaya yang pernah kukenali sebelumnya ketika kutatap dengan mataku dan kuhayati dengan batinku. Aku merasa bukan aku. Aku merasa lahir kembali sebagai aku yang sama sekali bukan yang kemarin.

        Aku pernah menjadi seorang bupati dan aku menyangka bahwa aku adalah bupati, sehingga ketika aku tidak lagi menjabat bupati, aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku pernah menjadi seorang menteri, disaat lain aku menjadi seorang jendral dengan jabatan dan kewenangan besar. Aku juga pernah menjadi seorang bos besar di sebuah perusahaan, kemudian menjadi pemimpin panutan beribu-ribu orang yang setiap saat ketemu setia mencium punggung tanganku.

        Ketika kemudian aku berangkat tua, aku mulai tak bisa mengelak untuk mengerti bahwa sesungguhnya aku bukan bos besar. Bukan penguasa, dan bukan pemimpin. Dan akhirnya, tatkala orang-orang mengangkat kerandaku dan memasukan ke lubang kuburan yang begitu amat sempit dibandingkan yang pernah ku bayangkan tentang kebesaran hidupku, aku sungguh-sungguh memahami bahwa yang dikuburkan ini bukanlah menteri, bukan bos besar, dan bukan pemimpin masyarakat. Yang meringkuk di kuburan dan tak bisa mengelak dari tangan Munkar dan Nakir ini adalah diri yang sama sekali lain, yang selama hidupku justru jarang kusapa dan kuperhatikan.

       Pada saat itulah tumbuh kecerahan pikiran dan sekaligus penyesalan. Betapa si bupati, si menteri, si bos besar dan si pemimpin umat, seharusnya sudah sejak awal kukuburkan sendiri, dan semestinya aku melawan habis-habisan apabila beribu-ribu orang itu mencoba menggali, menghidupkan, mengangkat diatas kepala mereka sendiri sambil menyanjung-nyanjung sesuatu yang telah kukuburkan itu.

          Aku bukan bupati, karena yang disebut bupati itu hanyalah bajuku. Aku bukan menteri, sebab yang bernama menteri itu hanyalah nama dari tugasku. Aku bukan bos, bukan pemimpin, bukan kiai, bukan ulama, bukan budayawan dan bukan apa saja, karena itu sekedar inisial untuk menandai pekerjaan hidup sosialku.

        Baju itu tanggal di hadapan Allah. Dan tanggalnya bajuku tak usah menunggu mautku. Tak usah menunggu hari tua rentaku. Tak usah menunggu habisnya masa tugasku. Tak usah menunggu orang lain mencopotnya secara paksa dariku. Dihadapan keagungan Allah, baju telah tanggal sekarang, sekarang juga bahkan sudah tanggal sejak sebelum ia kukenakan di badanku.

          Dihadapan Allah, baju itu tanggal. Jadi dimanakah ada tempat dimana baju itu tidak tanggal? Dimanakah aku hidup?, bertempat tinggal? Bekerja? Bersujud? Dan bernyanyi-nyanyi selain dihadapan Allah? Adakah tempat untuk mengungsi dari hadapan-Nya selain di wilayah-NYa juga? Adakah alam, kosmos, arasy, galaksi, ruang dan waktu dimana kau bisa terhindar dari penglihatan-Nya??

          Jadi di hadapan-Nya aku hanya sanggup telanjang
.
       Aku tidak bisa hidup kecuali di hadapanMU, ya Allah. Kalau aku berdiri di podium. Engkaulah itu yang menatapku. Kalau mulutku memekik-mekik dan tanganku ku acung-acungkan di hadapan beribu orang di lapangan  atau stadion, Engkaulah hadirinku yang nomor satu. Wajahku menatap ribuan orang itu, tapi jiwa ku tidak menghadap mereka jiwaku bukanlah yang sedang mereka tonton dan kagumi, karena hanya Engkaulah satu-satunya yang berhak atas segala puji, segala kekaguman, rasa cinta dan syukur.

           Kami semua, berjuta-juta, bersama alam, matahari, cahaya dan segala yang tersembunyi dibaliknya, menatap ke satu arah yang sama, yakni Engkau. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pusat perhatian mereka yang berjuta-juta itu, Ya Rabbi. Karena aku tak kuasa menjadi pusat perhatian. Aku tidak akan membiarkan orang berjuta-juta itu melihat ke arahku, mengonsentrasikan jiwanya padaku,  ya Rabbi,  karena aku akan terbakar luluh sirna jika berani-berani mengambil alih sesuatu yang menjadi hak-Mu.

          Aku akan berlari dari setiap arus massa yang mengidolakanku, yang memberhalakanku, yang memenjarakanku dalam sangkar takhayul mereka. Aku akan memberontak dari setiap energi sosial yang menyandera hakikatku untuk dijadikan patung sesuai dengan konsep budaya dan penyakit jiwa mereka. Kalau mereka memaksaku, aku akan menghilang. Kalau mereka mendesakku, aku akan terbang. Kalau mereka memojokkanku, aku akan tiba-tiba berada di balik punggung mereka. Kalau mereka men-cengkiwing leherku dan mencengkeram tengkuku untuk mereka jadikan sesuatu yang berdasarkan klenik kesengsaraan mereka, maka aku akan berlaku gila sampai mereka membenciku.

         Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang bodoh ini. Ampunilah saat-saat ketika aku tidak sanggup melihat apa-apa kecuali yang kusangka kebesaranku. Ampunilah tahun-tahun tatkala aku menikmati posisi-Mu: di puja-puja, dijadikan bahan histeria sejarah, sehingga seolah-olah jiwaku bergumam sendiri “ Laa Ilaha illa Anna…….”

     Ampunilah hari-hari kedunguanku dimana yang kunomorsatukan adalah namaku, popularitasku, posisi sejarahku di jenjang kursi yang amat inggi yang disangga oleh pundak jutaan orang. Ampunilah kelalaianku yang nikmat membiarkan berjuta-juta orang menyangka bahwa  aku ini besar dan sungguh-sungguh memiliki kebesaran.  Allahu Akbar! Walastu…….

       Tetapi, kutuklah dan persiapkan api neraka bagi kejahatanku tatkala aku memperniagakan kebesaran yang kusangka milikku. Tatkala aku mengapitalisasikan, memperdagangkan dan mengeksploitasi amanat-MU itu untuk memperoleh kemewahan hidup kedunianku.

   Ya Allah, Dzat satu-satunya yang benar-benar ada, betapa terlambatnya aku mengakui bahwa pada hakekatnya aku ini tiada. Bahwa segala yang seolah-olah kumiliki ini adalah milik-Mu. Bahwa kehidupan, alam semesta, kemanusiaan dan yang kusebut diriku sendiri ini, sesungguhnya tiada. Engka meng-ada-kannya. Namun ada-ku palsu. Engkau sajalah yang sejati ada.

Akhirnya kopi susu sudah tersedia.
Monggo disruput kopi suzunya....



#Sudrun Gugat

(HJ)